Hurt
Like Me [OneShoot] by Twinkle Nin
[
Proyect songfic I Wonder if You Hurt Like Me and Dropping the Tears ]
Inspiring
story of a song :
2
AM – I Wonder if You Hurt Like Me
K
Will - Dropping the Tears
Author
:
Twinkle
Nin [@AnindaWB]
Genre
:
Romance
Main Cast :
Park
Hyeon
Byun
Baekhyun
Other
Cast :
Kim
Jong In
Kang
Geul Ho
Ranting
: PG 16
Recommended Tracks :
2
AM – I Wonder If You Hurt Like Me
K Will - Dropping the Tears
this is my story. don't plagiat :)
ini hanya fiksi belaka jadi tolong jangan membash oek ;)
☻☻☻
Sepanjang hari aku hanya
memikirkanmu
Setetes air mata mengalir dengan
sendirinya
Aku
meremas manga yang tengah berada pada genggamanku. Suara-suara lebah – lebah
menjijikkan itu menembus gendang telingaku. Sakit. Rasanya menusuk.
Bukan.
Bukan tentang siapa yang membicarakan, namun tentang topik yang tengah lebah
madu betina tukang gosip yang aku maksudkan.
Mataku
memanas, bagaimana bisa mereka menggosip disebuah ruangan yang notabenya adalah
sarana belajar dan membaca?. Perpustakaan.
Hyeon,
sekuat apapun kamu mempertahankan keinginan untuk tidak ingin tahu menahu pada
finalnya kamu juga ingin tahukan?.
Tentang
gosip yang benar-benar menghancurkan hatiku!.
“Kudengar
mereka sudah berpacaran selama satu bulan. Aku begitu kaget mendengarnya. Baekhyun
Sunbae sungguh mematahkan hatiku.”
Cih,
menjijikkan. Memangnya hatimu bisa dipatakan begitu?. Dasar lebah menjijikkkan.
Mataku
semakin memanas. Haruskah aku mendengar kenyataan buruk ini?.
Rasanya
benda bening tak berbentuk ini ingin turun melewati setiap lekukan wajahku.
Ingin, aku ingin menangis tuhan.
“Hah
apa boleh buat. Geul Ho Sunbae adalah gadis yang cantik see Baekhyun Sunbae
tentunya akan menyukai gadis cantik dan cerdas sepertinya bukan?. Sudah-sudah
lebih baik kita merelakan. Toh Baekhyun Sunbae pasti bahagia.”
Aku
melirik gadis yang barusan berucap. Merelakan katanya?.
Aku
sudah sering melakukannya namun gagal. Kau tahu, perasaan ini terlalu kuat
untuk dihentikan!.
Langkah demi langkah, aku menapaki
bayanganmu.
Sehingga meskipun aku melakukan
pekerjaan, akupun tak mengetahui mengalirnya tangisanku.
“Kamu
benar. Kita harus merelakannya.” Salah satu dari mereka menunduk.
Hingga
yang kulihat sekarang lebah-lebah tukang penggosip itu satu persatu pergi
meninggalkan perpustakaan.
Bersamaan
dengan air mataku yang menetes. Menyedihkan sekali menjadi diriku. Kenapa bukan
aku yang dipilih?. Kenapa bukan aku yang menjadi Kang Geul Ho Sunbae?.
Tuhan
tidak adil.
Aku
hanya ingin mengajukan satu proposal tuhan, izinkan Baekhyun Sunbae
memandangku. Hanya satu proposal itu!.
Meskipun aku menyanyikan lagu
Meskipun aku berjalan
Segalanya hanya memikirkan
tentangmu
Aku
menyeka kasar air mataku. Aku bersyukur tidak ada yang melihatku meneteskan
benda menjijikkan ini hanya karena senior yang sudah aku kagumi selama dua
tahun belakangan ini. Senior yang selalu aku buntuti.
Senior
yang berkali-kali menyayat hatiku secara tidak ia ketahui.
Aku
kembali menunduk.
Namaku
Park Hyeon. Gadis berusia 16 tahun kelas dua di PSHS.
Dan
aku akan mengenalkan sesosok senior yang sejak pandangan pertama aku melihatnya
entahlah tiba-tiba dadaku berdebar dan darahku berdesir seolah berbisik jika
aku menyukai senior itu sejak pandangan pertama, tapi...
Apakah kau juga merasakan sakit ini
seperti diriku
Apakah kau juga menangis seperti
diriku?
Sialnya
aku bukanlah gadis yang selalu menjadi katagori gadis beruntung dalam soal
percintaan. Dia, maksudku Byun Baekhyun.
Si
senior kelas tiga yang super cerdas, yang selalu meraih mendali dalam kejuaraan
sains.
Seorang
senior yang selalu dikerumuni oleh para lebah-ebah kurang kerjaan yang sok
perhatian namun sialnya meraka juga tidak pernah dipandang oleh Baekhyun Sunbae.
Bukan,
Baekhyun Sunbae bukanlah pemuda dengan kepribadian yang dingin atau cuek pada
seseorang dan lingkungannya. Dia adalah pemuda yang ramah, dan aku rasa
sangatlah ramah hingga membuat para lebah-lebah itu selalu saja salah kaprah
tentang sikap Baekhyun.
Dia
hanya ingin ramah pada semuanya. Aku mengerti. Namun sialnya aku tidak pernah
mendapatkan senyumannya ataupun keramahannya.
Bukan
karena Baekhyun Sunbae membenciku, aku yang menutup diri untuk menunjukkan
sedikit perasaan ini padanya. Walau hanya secuil saja. Aku tidak akan pernah
berani.
Bukan
karena gengsi, namun aku sadar diri, aku tidaklah sebaik dengan mantan kekasih Baekhyun
Sunbae apalagi jika dibandingkan dengan kekasih Baekhyun Sunbae yang selalu
saja memasuki predikat gadis yang populer jika tidak gadis cerdas yang selalu
meraih mendali, sama bukan dengan Baekhyun Sunbae T_T aku patah hati, meraih
setengah mendali saja belum pernah apalagi satu mendali. Pantas saja aku tidak
pernah dipandang pemuda itu.
Apakah sepanjang hari kau juga
hidup dalam kenangan sepertiku?
Ada banyak hal yang membuatku
tersenyum meski terpaksa
Seperti ropot boneka yang jika
diberi pekerjaan akan tersenyum
Aku
menutup manga yang sudah selesai aku baca.
Mendorong
bangku yang kududuki dan bergegas meninggalkan tempat baca diperpustakaan. 10
menit lagi bel masuk akan berbunyi dan jangan sampai aku terlambat masuk jam
guru Shindong. Bisa - bisa aku dimakan mentah - mentah oleh guru sosial yang
super kocak namun jika sudah marah akan seperti iblis gendut yang kesetanan. Oh
maafkan aku Guru Shindong aku hanya mengatakan yang sejujurnya X_X.
☻☻☻
“Hyeon, setelah pulang sekolah
apakah kamu memiliki acara?.”
Kim
Jong In bertanya, dia adalah teman sebangku-ku yang begitu baik.
Kami
saling mengenal sejak hari pertama MOS. Dia mengajakku berkenalan dan kami
langsung akrab begitu saja.
Terlihat
aneh memang jika aku memilih Jong In sebagai teman paling dekat dalam hidupku.
Namun
memang kenyataannya begitu, pemuda berkulit hitam ini memang selalu mengerti
tentang diriku.
Tidak,
Jong In tidak mengerti tentang perasaanku pada Baekhyun Sunbae namun dia tahu
semua tentangku kecuali perasaanku.
Aku
menyukai Jong In. bukan rasa suka seorang gadis dewasa pada pemuda dewasa namun
perasaan gadis pada teman prianya. Sahabat.
Aku
mengakui jika sampai saat ini aku masih membutuhkan Jong In. membutuhkan segala
perkataan dewasanya. Bahkan sampai nanti, sampai aku mengetahui akhir kisah
konyol tentang perasaanku ini.
Meski menonton televisi
Meski bertemu dengan teman
Segalanya hanya memikirkan
tentangmu
“Baekhyun
Sunbae kenapa kamu begitu tampan..”
“Baekhyun
Sunbae minumlah minuman ini..”
“Baekhyun
...”
“Baekhyun
Sunbae.... dengar aku..”
“Baekhyun
Sunbae aku mencintaimu...”
Aku
hampir menjerit dan mengepalkan buku-buku jari tanganku.
Tidak
Hyeon bertahanlah. Jangan emosi.
Hey
memangnya Baekhyun Sunbae siapamu hingga kamu dapat mengecap dirimu tenga
emosi?.
Kekasih?.
Teman saja bukan-kan?.
“Hyeon,
kenapa berhenti?.”
Aku
menoleh kekanan tepat didepan wajah Jong In.
Dia
bingung dengan langkahku yang tiba-tiba berhenti dan kepalan pada jari
tanganku.
Jangan
Hyeon, kamu tidak boleh menampakkan gurat kemarahan dan rasa cemburu dihadapan Jong
In. jangan, Jong In tidak boleh tahu tentang kenyataan yang sebenarnya!.
“Tidak.
Aku hanya heran dengan mereka para lebah-lebah yang setia sejak pagi hingga
sore ini untuk Baekhyun.”
Tidak
Hyeon. Aku mengutuk kalimat yang baru sja keluar dari mulutku.
Bagaimana
jika Jong In curiga?. Dia kan hanya tahu jika aku ini bukanlah tipekal gadis
yang peduli dengan lingkungan apalagi peduli dengan sejenis kejadian dihadapan kami.
Para
lebah yang berusaha merebut perhatian Baekhyun Sunbae yang masih berdiam
diambang pintu.
Dia
namak begitu tersiksa dengan segala tingkah aneh para lebah itu.
Aku
mendengus kesal lalu menunduk.
“Ada
apa denganmu?. Bukankah itu adalah pemandangan yang biasanya?. Tumben kamu
peduli.” Jong In mulai melangkah.
Pelan
aku mengikutinya. Pertanda aku menjauh dari kerumunan lebah dan satu idolaku
itu.
Aku
mendesah pelan, bagaimana cara menjelaskannya.
“Tidak,
hanya saja.aku heran kenapa mereka tidak bosan.”
“Padahal
kenyataannya Baekhyun Sunbae sudah berpacaran dengan Geul Ho Sunbae.”
Celoteh
Jong In terkekeh.
Tahukan
kamu Jong In, kalimatmu sukses menyayat hatiku.
Seakan
seperti sembilu yang tajam yang terus berusaha mencari celah agar hatiku
teriris lalu berdarah dan hancur begitu saja.
Aku
menggergitkan gigi-gigiku. Sakit hati.
Jadi
gosip itu benar, aku menjerit dalam hati.
Tuhan,
sekali lagi aku terjatuh. Etntah harus berapa air mata yang aku keluar kan
nanti malam.
Aku
kira itu hanya sebuah gosip mentah yang tidak pantas dipercaya.
“Kenapa
diam?.” Tanya Jong In.
Kami
sudah sampai diParkiran. Aku tidak tahu.
Jong
In meraih helm hitam dan memakaikannya padaku.
Mata
kami bertemu. Aku menunduk, bukan malu. Sedang hilang semangat.
“Jadi
gosip itu benar?.”
Jong
In mengeryitkan keningnya. Waeyo?.
“Apa
pedulimu Hyeon?. Aku merasa aneh denganmu. Ah jangan bilang kamu menyukai Baekhyun
Sunbae. Katakan Hyeon jika aku salah menebak.” Desak Jong In.
Mata
tajamnya terus memandang mataku. Masuk kedalam lensa mataku. Dia berusaha
mencari kebenaran dari tatapanku. Tenang Hyeon jangan tunjukan kebenarannya.
“Oh?.
Ti-tidak. Mana mungkin aku menyukai Baekhyun Sunbae. Sudahlah lupakan ayo
pulang.”
“Baiklah.
Aku hanya memberi saran jangan sampai kamu menyukai Baekhyun Sunbae.”
“Waeyo?.”
☻☻☻
Karena tersenyum setiap hari
Karena hanya menunjukkan wajah
tersenyum
sepertinya mereka pikir aku bahagia
Namun bagaimana aku bisa tersenyum,
meskipun tersenyum, air mata terus mengalir
Park Hyeon
menutup buku sosialnya dan menjauhkannya dari tangannya yang tergeletak diatas
meja belajarnya.
Dia
menunduk. Menyebalkan sekali jika hati sedang patah hati lalu belajar.
Seolah
kalimat yang dituliskan pada buku bukanlah sebuah tulisan materi pelajaran namun
sebuah kata bertulis “rasakan, rasakan rasakan sakitnya.”
Hyeon
mengerang. Mengacak rambut sebahunya kasar.
Air matanya
kembali menetes. Sial.
Apakah kau juga merasakan sakit ini
seperti diriku
Apakah kau juga menangis seperti
diriku?
Apakah sepanjang hari kau juga
hidup dalam kenangan sepertiku?
Ada banyak hal yang membuatku
tersenyum meski terpaksa
Seperti ropot boneka yang jika
diberi pekerjaan akan tersenyum
Park Hyeon
meraih sebuah buku kecil bersampul hijau bergembok dan bergambar tinker Bell.
Sudah dapat
ditebak bukan?. Sebuah diary milik Hyeon.
Memang sudah
menjadi kebiasaan menulis diary tentang segala yang terjadi padanya dihari pagi
hingga malam menjelang.
Hyeon hanya
merasa senang ketika tangannya menari diatas lembaran kosong dan menggoreskan
tinta hitam itu. Menuliskan, meluapkan segala perasaan. Keluh kesalnya.
Bahagiannya.
“Aku rasa
selalu didominasi kesedihan.” Celoteh Hyeon kesal.
Gadis itu
membuka laci meja belajarnya dan meraih kunci pembuka diarynya.
Terbuka.
Senyum kecil terkembang.
Pelan Hyeon
mulai membalik lembaran yang telah terisi hitam diatas putih hingga dia
menemukai sebuah lembaran putih kosong.
Mengambil
pena dan mulai menulis diarynya. Seperti malam kemarin dan kemarinnya lagi.
Masih bertema sedih. Oh Park Hyeon kenapa hidupmu begitu menyedihkan eoh?
T_T X_X
27 september 2014
Dear Diary!
Hay. Selamat malam tinker Bell. Bagaimana
keadaanmu malam ini? J
Aku harap kamu selalu merasa baik.
Keadaanku?. Menyedihkan Bell.
Aku sekarang tengah patah hati
sejadi-jadinya T_T
Baekhyun?. Tentu masih karena pemuda itu.
Kau tahu Bell, dia mematahkan harapanku
untuk yang kesekian kalinya.
Bell, dia jadian dengan senior cantik dan
cerdas di parang T_T.
Oh Bell, aku patah hati. Sakit rasanya.
Hatiku bergejolak ingin melompat dan berteriak didepan wajah imut Baekhyun jika
aku marah aku cemburu.
Tapi aku siapa Bell?. Aku hanya
penggemarnya.
Secara bertahap pergi
Pertanda menjadi semakin mengecil
Terakhir kalinya aku ingin melihat lebih
banyak
Aku hanya ingin mengingat lebih banyak
Aku hanya bisa menebar
Hyeon
meneteskan air matanya. Untuk yang kesekian kalinya. Gadis itu terisak dalam
diam. Menggenggam penanya erat.
Remuk sudah
hatinya. Patahlah harapannya untuk yang keseribu kalinya.
Kenapa harus
patah hati? Kenapa setiap hari harus sakit hati?.
Bell, apa yang harus aku lakukan?. Aku ingin
melupakannya Bell, namun sulit.
Kenapa Baekhyun seakan mengambil alih posisi
pikiranku.
Bell, apa aku harus menyatakan cinta
padanya?.
Hyeon
menghentikan gerakan jari-jarinya. Gadis itu menyeka kasar air matanya.
“Memangnya
aku harus mengatakannya?. Diakan sedang menjadi milik Geul Ho Sunbae.”
Bell, katakan aku harus bagaimana?.
Besok kamu harus memberiku jawaban. Apa aku
harus bertindak atau cukup diam seperti biasanya.
Oke Bell?.
Baikah Bell, sudah malam saatnya tidur.
Selamat malam tinker Bell sayang :* i love
you!.
Semoga kita memimpikan idaman kita :’D
Park Hyeon
menutup diarynya dan kembali memasang gembok diary itu. Menaruhnya pada tempat
smeula. Memasukkan kunci pada laci dan segera bangkit dari duduknya.
Sduah pukul
10 malam, ini waktunya tidur.
“Hoam. Aku
sudah mengantuk”
“Selamat
malam semua!.”
Aku mencintaimu
Aku ingin membawa cinta dan meneriakinya
Maafkan aku, aku tidak dapat tersenyum
Dapatkah kau memberikannya kembali,
Lihatlah.
☻☻☻
Hyeon
benar-benar mengutuk pagi ini. Menyebalkan sekali berangkat pagi-pagi dan
mendapati koridor yang masih sepi tanpa siswa siswi satupun.
Park Hyeon
mendesah kesal. Jika tahu begini lebih baik dia berangkat siang saja.
Hyeon
mengakui dia benci sendiri dan dia akan menebak dikelas dia akan sendirian.
Untung saja
pagi, coba saja jika malam. Hyeon sudah menebak dia akan kejang-kejang sebelum
akhirnya pingsan terkapar. Terlalu dramatis T_T.
“Menyebalkan
sekali.” Ucap Hyeon bersamaan dengan langkahnya yang terhenti.
Alis
kanannya terangkat. Heran. Penasaran. Ingin tahu.
Matanya
menyipit memastikan siapa yang tengah berdiri jauh di depannya sana.
Dua anak
manusia. Siswa dan siswi.
Dada Hyeon
seketika berdetak kencang. Firasatnya mengatakan keburukan. Apa yang akan
terjadi?.
Siapa
mereka?. Park Hyeon merasa mengenal perpawakan salah satu dari mereka. Sang
pemuda!.
Samar Hyeon
sanggup mendengar percakapan mereka.
“Maafkan aku
Geul Ho, ini tidak seperti apa yang kamu fikirkan?.”
Mata Hyeon
membulat. Geul Ho? Gadis itu memalingkan wajahnya. Kearah Hyeon.
Geul Ho
tidak sadar dengan kehadiran Hyeon.
Tidak,
jangan beradegan yang membuat hati Hyeon sakit.
Sudah Baekhyun.
Sudah cukup dengan mua rasa sakit ini!.
Karena aku tidak bisa berjalan meskipun
sehari
Kau tahu hatiku
Kumohon berikan aku putaran
Park Hyeon
menunduk, dia sudah dapat menebak siapa pemilik tubuh proposional itu. Baekhyun,
dia Byun Baekhyun.
“Harus
berapa kali lagi aku menahan rasa cemburu ini Baek?.”
Hyeon
mendongak, Geul Ho cemburu?. Mungkinkah cemburu pada lebah – lebah itu?.
Hyeon
menyeringai. Dia jauh bertahan selama dua tahun sedang Geul Ho, berapa hari dia
baru bertahan ha?.
Hyeon
kembali membulatkan matanya.
Baekhyun
meraih dagu Geul Ho.
Kaki Park Hyeon
kaku. Rasanya ingin menyingkir dan masuk kedalam kelasnya.
Sial, jika
dia ingin ke kelas dia harus melewati mereka.
Dia menyesal.
Hyeon menyesal telah berangkat pagi. Dia menggigit bibir bawahnya.
Tahukah kau
Takuhan kau aku menangis
Mata heyon
memanas. Dia dapat mengepalkan tangannya.
Baekhyun
meraih tengkuk Geul Ho. Mendaratkan sebuah ciuman manis pada bibir Geul Ho.
Hyeon
terisak dalam diam. Sakit. Kenapa semuanya menjadi begini?
Hyeon
menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya.
Menutup
mata. Tidak. Dia tidak ingin melihat pemandangan mengerikan ini.
Rasanya Hyeon
ingin terjun dari atas tebing dan mati mendarat. Tidak dia belum ingin mati.
Setidaknya
ia ingin melangkah pergi namun kenapa kakinya berat untuk digerakan.
“Kalian
tega.”
Tentu, tentu
saja mereka tega. Mereka tidak sadar kehadiran par Hyeon.
Tidak pernah
menyadarinya sama sekali.
Baekhyun
melepas tautannya. Meraup wajah Geul Ho.
Mata mereka
bertemu.
“Percayalah
padaku. Aku hanya mencintaimu. Hanya kamu.”
Samar Hyeon
dapat melihat anggukan mantap Geul Ho. Hingga Baekhyun tergerak meraih tubuh
mungil Geul Ho. Masuk kedalam pelukannya.
Sakit. Ini
begitu menyakitkan.
Selama dua
tahun Hyeon bertahan. Selama itulah dia tersakiti.
Selama dua
tahun dia memendam perasaan ini. Selama itulah dia harus menahan betapa
sakitnya hati ketika teriris secara tidak langsung.
Sekarang,
bisakah dia mengajukan proposal padamu tuhan?.
‘aku ingin
melupakan Baekhyun. Dia sebuah hitam dalam hidupku. Dia abu-abu dalam
kehidupanku!.’
Aku tahu kau bertahan.
Kulihat kau datang.
Aku mencintaimu.
Aku ingin membawa cinta dan meneriakinya.
Maafkan aku, aku tidak dapat tersenyum.
Dapatkah kau memberikannya kembali.
Lihatlah.
Baekhyun dan
Geul Ho menegang. Mata mereka membulat ketika bertemu dengan mata Hyeon.
Baekhyun
mengeryitkan keningnya, dia dapat menebak jika Hyeon baru saja menangis.
Kenapa?.
Baekhyun
sama sekali tidak mengenali gadis itu?. Apakah dia salah satu penggemarnya?.
Apa dia melihat kejadian barusan?. Malulah dia sekarang.
“Maaf Sunbae,
aku tidak sengaja melihat. Aku akan menutup mulut.”
Ucap Hyeon
parau. Jari telunjuknya tergerak didepan bibirnya. Bergerak seoalah memberi
kode bahwa dia akan menutup mulut. Seakan mengeritkan bibirnya untuk tidak
terbuka.
“Saya
permisi.”
Karena aku tidak bisa berjalan meskipun
sehari
Kau tahu hatiku
Kumohon berikan aku putaran
Bahkan rasa sakit cukup untuk membuatku
mati lagi
☻☻☻
Tidak sama
sekali. Park Hyeon berjanji dia tidak akan lagi sakit hati. Tidak akan lagi
menangisi seorang Byun Baekhyun.
Sudah cukup Baekhyun,
berhenti menyakiti hati Hyeon secara tidak langsung.
Tidakkah
kamu melihat caranya bertahan untuk dua tahun. bertahan hanya untukmu?.
Tapi sialnya
kamu menghancurkan tembok pertahanannya. Sakit Baehyun. Beradalah pada
posisinya sekarang juga!.
Sekarang aku bahkan tidak bisa merasakan.
Aku harap kembali hanya untuk melihatmu.
Aku akan menunggu.
Aku akan menunggu disini hingga terhenti.
Aku tidak akan melanjutkan langkahku.
“AAAAAAAAAAAAAAAA.....”
Hyeon
menangis sejadinya ditaman sekolah. Tidak peduli beberapa orang mulai datang
dan memandangnya aneh. Ia hanya ingin meluapkan segala rasa sakitnya.
Sakit Baekhyun.
Pandang Hyeon sekali saja.
“Brengsek.
Kau brengsek Baekhyun. Sekarang, apa bedanya aku dengan Geul Ho? Kami sama.
Jika kamu mencari yang cantik aku juga tidak kalah cantik. Jika mencari yang cerdas.
Aku juga bisa cerdas. Tapi kenapa kamu sekali saja tidak pernah memandangku?.”
Teriak Hyeon.
Kenapa pagi
yang seharusnya penuh dengan kesenangan haus terisi dengan terkikisnya hati Hyeon?.
Kenapa
kebahagiaannya harus selalu terampas dengan masalah kecil?.
Kenapa dia
tidak diizinkan merasakan rasa cinta seorang pemuda?. Tidak adil.
“Tuhan, jika
Baekhyun bukan masa depanku. Maka buat aku lupa tentang dia. Buat aku melupakan
dia selamanya.hiks. aku mohon!.”
Dan aku hanya mengingat, aku akan mengingat
Park Hyeon
menangkupka wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Menangis dalam diam.
Matanya
sudah sangat sakit. Terlalu banyak menangis. Terlalu lama menangis.
Terlalu bodoh
telah jatuh hati pada Baekhyun.
Persetan dengan
Baekhyun, dia tidak akan lagi mau dengan Baehyun. Tidak akan pernah.
Mulai saat
ini bukan Park Hyeon yang mengagumi Baekhyun.
Sudah cukup
rasa sakit ini. Sekarang biarkanlah ada Park Hyeon yang membenci Baekhyun. Yang
mengutuk segala tingkah laku Baekhyun.
Baekhyun
mencumbu kekasihnya dihadapannya itu sudah cukup membuatnya mati berdiri.
Hentikan,
jangan berlebihan Baekhyun!.
Tidak, aku
yakin dia tidak akan mendengarnya.
Mungkin dia
sedang bersenang-senang dengan Geul Ho untuk pagi ini!.
Tahukah kau
Takuhan kau aku menangis
Tangkupan
telapak tangan Hyeon terbuka. Bukan dia yang membukanya. Namun Jong in.
Hyeon hampir
menjerit dan ingin menangis ketika matanya bertemu dengan mata elang Jong In.
Wajah
tentram Jong In seakan menghilangkan rasa sakit Hyeon untuk sesaat!.
Sesaat
hening. Hanya terdengan seruakan angin yang semu.
Mata mereka
masih bertemu.
Jong In
mengeratkan genggamannya pada kedua belah telapan tangan Hyeon.
Posisi
mereka. Hyeon duduk diatas bangku taman dan Jong In berjongkok di depannya.
“Apa
membuatmu menangis?.” Jong In membuka mulutnya.
Hyeon
menunduk. Takut. Haruskan bercerita.
“Bisakah
tidak ada sebuah rahasia?. Aku selalu bisa menjaganya.”
Hyeon
mendongak. Memandang mata elang Jong In.
Mata almond Hyeon
meneduh. Harus yah?
Karena aku tidak akan melupakannya
“A-aku.”
“Katakan. Apa
yang membuatmu menangis Hyeon?.”
Hyeon
kembali menunduk.
Mulai dari
mana dia harus bercerita ha?.
“Aku, Jong
In. aku terluka terlalu dalam.”
Jong In
mengeryitkan keningnya. Terluka kenapa?
Siapa yang
menyakiti Hyeon.
Jong In
mengerang. Tidak ada yang boleh menyakiti Hyeon. Tidaka ada.
“Siapa yang
melukaimu Hyeon?.” Suara berat Jong In keluar. Dia seakan marah. Sama, Hyeon juga marah.
Sialan air
mata Hyeon kembali menetes. Sakit!.
“Aku-aku..” Hyeon
tergagap.
Sekejappun Kau tahu hatiku
“Katakan Heyon?.”
“Dia
menyakitiku Jong In. dua tahun aku bertahan untuknya. mengaguminya.
Membuntutinya. Memujinya. Mengidolakannya. Mengirimkan satu surat kecil
padanya. Dulu.” Hyeon terisak.
Jong In
semakin erat menggenggap telapak tangan Hyeon.
Berusaha
mentransferkan kenyamanan untuk Hyeon.
“Katakan
namanya Hyeon?. ” desak Jong In.
Haruskan?.
Haruskan Park Hyeon melakukannya ini, menyebutkan nama pemuda itu dihadapan Jong
In.
Jong In,
pemuda yang terkenal kasar. Jika dia tahu siapa penyebab semua ini. Akankah Jong
In akan bermain kasar pada Baekhyun?. 70% Hyeon sanggup menjawab iyah.
“Katakan.”
Park Hyeon
melepas genggaman Jong In. menangkup kedua pipi pemuda berkulit hitam itu.
Melempar
senyum pada pemuda yang selalu ada untuknya. Hyeon senang!.
“Berjanjilah
Jong In. kamu tidak akan berurusan dengannya.”
Jong In
mengangguk mantap.
Meraih kedua
telapan tangan Hyeon.
“Aku
berjanji.” Ucap Jong In bersamaan dengan suara bel masuk sekolah.
Sudah masuk,
mereka harus cepat. Tidak, Hyeon yang harus cepat.
Cepat
katakan Hyeon.
“Hyeon.
Cepat katakan.”
Jong In
kembali mendesak.
Kumohon berikan aku putaran.
Diriku lagi.
Sekarang aku bahkan tidak bisa merasakan.
Aku harap kembali hanya untuk melihatmu.
Aku akan menunggu.
Aku akan menunggu disini hingga terhenti.
Berjanjilah Park
Hyeon. Setelah ini tidak aakn lagi ada cinta untuk Baekhyun. Setelah rasa sakit
ini.
Berhentilah
mencintai Baekhyun. Berhenti membuntutinya berhenti mendengar kabar dan gosip
tentangnya. Ini menyakitkan, namun Hyeon harus bisa.
Aku tidak akan melanjutkan langkahku
“Byun
Baekhyun!.”
Dan
Baekhyun harus sakit seperti aku.
Hurt
like me baekhyun
END
mianhae jika jelek pasaran menggantung dan tidak mengenakan. tapi terimakasih atas keinginan untuk membaca :'D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar