Sabtu, 27 September 2014

SongFic Hurt Like Me [Baekhyun FinFiction]


Hurt Like Me [OneShoot] by Twinkle Nin

[ Proyect songfic I Wonder if You Hurt Like Me and Dropping the Tears ]

Inspiring story of a song :
2 AM – I Wonder if You Hurt Like Me
K Will - Dropping the Tears

Author :
Twinkle Nin [@AnindaWB]

Genre :
Romance

 Main Cast :
Park Hyeon
Byun Baekhyun

Other Cast :
Kim Jong In
Kang Geul Ho

Ranting : PG 16

 Recommended Tracks :
2 AM – I Wonder If You Hurt Like Me
K Will - Dropping the Tears

this is my story. don't plagiat :)
ini hanya fiksi belaka jadi tolong jangan membash oek ;)
 
☻☻☻


Sepanjang hari aku hanya memikirkanmu
Setetes air mata mengalir dengan sendirinya

Aku meremas manga yang tengah berada pada genggamanku. Suara-suara lebah – lebah menjijikkan itu menembus gendang telingaku. Sakit. Rasanya menusuk.
Bukan. Bukan tentang siapa yang membicarakan, namun tentang topik yang tengah lebah madu betina tukang gosip yang aku maksudkan.
Mataku memanas, bagaimana bisa mereka menggosip disebuah ruangan yang notabenya adalah sarana belajar dan membaca?. Perpustakaan.
Hyeon, sekuat apapun kamu mempertahankan keinginan untuk tidak ingin tahu menahu pada finalnya kamu juga ingin tahukan?.
Tentang gosip yang benar-benar menghancurkan hatiku!.

“Kudengar mereka sudah berpacaran selama satu bulan. Aku begitu kaget mendengarnya. Baekhyun Sunbae sungguh mematahkan hatiku.”

Cih, menjijikkan. Memangnya hatimu bisa dipatakan begitu?. Dasar lebah menjijikkkan.
Mataku semakin memanas. Haruskah aku mendengar kenyataan buruk ini?.
Rasanya benda bening tak berbentuk ini ingin turun melewati setiap lekukan wajahku. Ingin, aku ingin menangis tuhan.

“Hah apa boleh buat. Geul Ho Sunbae adalah gadis yang cantik see Baekhyun Sunbae tentunya akan menyukai gadis cantik dan cerdas sepertinya bukan?. Sudah-sudah lebih baik kita merelakan. Toh Baekhyun Sunbae pasti bahagia.”

Aku melirik gadis yang barusan berucap. Merelakan katanya?.
Aku sudah sering melakukannya namun gagal. Kau tahu, perasaan ini terlalu kuat untuk dihentikan!.

Langkah demi langkah, aku menapaki bayanganmu.
Sehingga meskipun aku melakukan pekerjaan, akupun tak mengetahui mengalirnya tangisanku.

“Kamu benar. Kita harus merelakannya.” Salah satu dari mereka menunduk.
Hingga yang kulihat sekarang lebah-lebah tukang penggosip itu satu persatu pergi meninggalkan perpustakaan.
Bersamaan dengan air mataku yang menetes. Menyedihkan sekali menjadi diriku. Kenapa bukan aku yang dipilih?. Kenapa bukan aku yang menjadi Kang Geul Ho Sunbae?.
Tuhan tidak adil.
Aku hanya ingin mengajukan satu proposal tuhan, izinkan Baekhyun Sunbae memandangku. Hanya satu proposal itu!.

Meskipun aku menyanyikan lagu
Meskipun aku berjalan
Segalanya hanya memikirkan tentangmu

Aku menyeka kasar air mataku. Aku bersyukur tidak ada yang melihatku meneteskan benda menjijikkan ini hanya karena senior yang sudah aku kagumi selama dua tahun belakangan ini. Senior yang selalu aku buntuti.
Senior yang berkali-kali menyayat hatiku secara tidak ia ketahui.
Aku kembali menunduk.
Namaku Park Hyeon. Gadis berusia 16 tahun kelas dua di PSHS.
Dan aku akan mengenalkan sesosok senior yang sejak pandangan pertama aku melihatnya entahlah tiba-tiba dadaku berdebar dan darahku berdesir seolah berbisik jika aku menyukai senior itu sejak pandangan pertama, tapi...

Apakah kau juga merasakan sakit ini seperti diriku
Apakah kau juga menangis seperti diriku?

Sialnya aku bukanlah gadis yang selalu menjadi katagori gadis beruntung dalam soal percintaan. Dia, maksudku Byun Baekhyun.
Si senior kelas tiga yang super cerdas, yang selalu meraih mendali dalam kejuaraan sains.
Seorang senior yang selalu dikerumuni oleh para lebah-ebah kurang kerjaan yang sok perhatian namun sialnya meraka juga tidak pernah dipandang oleh Baekhyun Sunbae.
Bukan, Baekhyun Sunbae bukanlah pemuda dengan kepribadian yang dingin atau cuek pada seseorang dan lingkungannya. Dia adalah pemuda yang ramah, dan aku rasa sangatlah ramah hingga membuat para lebah-lebah itu selalu saja salah kaprah tentang sikap Baekhyun.
Dia hanya ingin ramah pada semuanya. Aku mengerti. Namun sialnya aku tidak pernah mendapatkan senyumannya ataupun keramahannya.
Bukan karena Baekhyun Sunbae membenciku, aku yang menutup diri untuk menunjukkan sedikit perasaan ini padanya. Walau hanya secuil saja. Aku tidak akan pernah berani.
Bukan karena gengsi, namun aku sadar diri, aku tidaklah sebaik dengan mantan kekasih Baekhyun Sunbae apalagi jika dibandingkan dengan kekasih Baekhyun Sunbae yang selalu saja memasuki predikat gadis yang populer jika tidak gadis cerdas yang selalu meraih mendali, sama bukan dengan Baekhyun Sunbae T_T aku patah hati, meraih setengah mendali saja belum pernah apalagi satu mendali. Pantas saja aku tidak pernah dipandang pemuda itu.

Apakah sepanjang hari kau juga hidup dalam kenangan sepertiku?
Ada banyak hal yang membuatku tersenyum meski terpaksa
Seperti ropot boneka yang jika diberi pekerjaan akan tersenyum

Aku menutup manga yang sudah selesai aku baca.
Mendorong bangku yang kududuki dan bergegas meninggalkan tempat baca diperpustakaan. 10 menit lagi bel masuk akan berbunyi dan jangan sampai aku terlambat masuk jam guru Shindong. Bisa - bisa aku dimakan mentah - mentah oleh guru sosial yang super kocak namun jika sudah marah akan seperti iblis gendut yang kesetanan. Oh maafkan aku Guru Shindong aku hanya mengatakan yang sejujurnya X_X.

☻☻☻

            “Hyeon, setelah pulang sekolah apakah kamu memiliki acara?.”
Kim Jong In bertanya, dia adalah teman sebangku-ku yang begitu baik.
Kami saling mengenal sejak hari pertama MOS. Dia mengajakku berkenalan dan kami langsung akrab begitu saja.
Terlihat aneh memang jika aku memilih Jong In sebagai teman paling dekat dalam hidupku.
Namun memang kenyataannya begitu, pemuda berkulit hitam ini memang selalu mengerti tentang diriku.
Tidak, Jong In tidak mengerti tentang perasaanku pada Baekhyun Sunbae namun dia tahu semua tentangku kecuali perasaanku.
Aku menyukai Jong In. bukan rasa suka seorang gadis dewasa pada pemuda dewasa namun perasaan gadis pada teman prianya. Sahabat.
Aku mengakui jika sampai saat ini aku masih membutuhkan Jong In. membutuhkan segala perkataan dewasanya. Bahkan sampai nanti, sampai aku mengetahui akhir kisah konyol tentang perasaanku ini.

Meski menonton televisi
Meski bertemu dengan teman
Segalanya hanya memikirkan tentangmu

“Baekhyun Sunbae kenapa kamu begitu tampan..”

“Baekhyun Sunbae minumlah minuman ini..”

“Baekhyun ...”

“Baekhyun Sunbae.... dengar aku..”

“Baekhyun Sunbae aku mencintaimu...”


Aku hampir menjerit dan mengepalkan buku-buku jari tanganku.
Tidak Hyeon bertahanlah. Jangan emosi.
Hey memangnya Baekhyun Sunbae siapamu hingga kamu dapat mengecap dirimu tenga emosi?.
Kekasih?. Teman saja bukan-kan?.

“Hyeon, kenapa berhenti?.”

Aku menoleh kekanan tepat didepan wajah Jong In.
Dia bingung dengan langkahku yang tiba-tiba berhenti dan kepalan pada jari tanganku.
Jangan Hyeon, kamu tidak boleh menampakkan gurat kemarahan dan rasa cemburu dihadapan Jong In. jangan, Jong In tidak boleh tahu tentang kenyataan yang sebenarnya!.

“Tidak. Aku hanya heran dengan mereka para lebah-lebah yang setia sejak pagi hingga sore ini untuk Baekhyun.”

Tidak Hyeon. Aku mengutuk kalimat yang baru sja keluar dari mulutku.
Bagaimana jika Jong In curiga?. Dia kan hanya tahu jika aku ini bukanlah tipekal gadis yang peduli dengan lingkungan apalagi peduli dengan sejenis kejadian dihadapan kami.
Para lebah yang berusaha merebut perhatian Baekhyun Sunbae yang masih berdiam diambang pintu.
Dia namak begitu tersiksa dengan segala tingkah aneh para lebah itu.
Aku mendengus kesal lalu menunduk.

“Ada apa denganmu?. Bukankah itu adalah pemandangan yang biasanya?. Tumben kamu peduli.” Jong In mulai melangkah.

Pelan aku mengikutinya. Pertanda aku menjauh dari kerumunan lebah dan satu idolaku itu.
Aku mendesah pelan, bagaimana cara menjelaskannya.

“Tidak, hanya saja.aku heran kenapa mereka tidak bosan.”

“Padahal kenyataannya Baekhyun Sunbae sudah berpacaran dengan Geul Ho Sunbae.”
Celoteh Jong In terkekeh.

Tahukan kamu Jong In, kalimatmu sukses menyayat hatiku.
Seakan seperti sembilu yang tajam yang terus berusaha mencari celah agar hatiku teriris lalu berdarah dan hancur begitu saja.
Aku menggergitkan gigi-gigiku. Sakit hati.
Jadi gosip itu benar, aku menjerit dalam hati.
Tuhan, sekali lagi aku terjatuh. Etntah harus berapa air mata yang aku keluar kan nanti malam.
Aku kira itu hanya sebuah gosip mentah yang tidak pantas dipercaya.

“Kenapa diam?.” Tanya Jong In.

Kami sudah sampai diParkiran. Aku tidak tahu.
Jong In meraih helm hitam dan memakaikannya padaku.
Mata kami bertemu. Aku menunduk, bukan malu. Sedang hilang semangat.

“Jadi gosip itu benar?.”
Jong In mengeryitkan keningnya. Waeyo?.
“Apa pedulimu Hyeon?. Aku merasa aneh denganmu. Ah jangan bilang kamu menyukai Baekhyun Sunbae. Katakan Hyeon jika aku salah menebak.” Desak Jong In.

Mata tajamnya terus memandang mataku. Masuk kedalam lensa mataku. Dia berusaha mencari kebenaran dari tatapanku. Tenang Hyeon jangan tunjukan kebenarannya.

“Oh?. Ti-tidak. Mana mungkin aku menyukai Baekhyun Sunbae. Sudahlah lupakan ayo pulang.”

“Baiklah. Aku hanya memberi saran jangan sampai kamu menyukai Baekhyun Sunbae.”

“Waeyo?.”

☻☻☻

Karena tersenyum setiap hari
Karena hanya menunjukkan wajah tersenyum
sepertinya mereka pikir aku bahagia
Namun bagaimana aku bisa tersenyum, meskipun tersenyum, air mata terus mengalir

Park Hyeon menutup buku sosialnya dan menjauhkannya dari tangannya yang tergeletak diatas meja belajarnya.
Dia menunduk. Menyebalkan sekali jika hati sedang patah hati lalu belajar.
Seolah kalimat yang dituliskan pada buku bukanlah sebuah tulisan materi pelajaran namun sebuah kata bertulis “rasakan, rasakan rasakan sakitnya.”
Hyeon mengerang. Mengacak rambut sebahunya kasar.
Air matanya kembali menetes. Sial.

Apakah kau juga merasakan sakit ini seperti diriku
Apakah kau juga menangis seperti diriku?
Apakah sepanjang hari kau juga hidup dalam kenangan sepertiku?
Ada banyak hal yang membuatku tersenyum meski terpaksa
Seperti ropot boneka yang jika diberi pekerjaan akan tersenyum

Park Hyeon meraih sebuah buku kecil bersampul hijau bergembok dan bergambar tinker Bell.
Sudah dapat ditebak bukan?. Sebuah diary milik Hyeon.
Memang sudah menjadi kebiasaan menulis diary tentang segala yang terjadi padanya dihari pagi hingga malam menjelang.
Hyeon hanya merasa senang ketika tangannya menari diatas lembaran kosong dan menggoreskan tinta hitam itu. Menuliskan, meluapkan segala perasaan. Keluh kesalnya. Bahagiannya.

“Aku rasa selalu didominasi kesedihan.” Celoteh Hyeon kesal.
Gadis itu membuka laci meja belajarnya dan meraih kunci pembuka diarynya.
Terbuka. Senyum kecil terkembang.
Pelan Hyeon mulai membalik lembaran yang telah terisi hitam diatas putih hingga dia menemukai sebuah lembaran putih kosong.
Mengambil pena dan mulai menulis diarynya. Seperti malam kemarin dan kemarinnya lagi. Masih bertema sedih. Oh Park Hyeon kenapa hidupmu begitu menyedihkan eoh? T_T  X_X

27 september 2014

Dear Diary!

Hay. Selamat malam tinker Bell. Bagaimana keadaanmu malam ini? J
Aku harap kamu selalu merasa baik.
Keadaanku?. Menyedihkan Bell.
Aku sekarang tengah patah hati sejadi-jadinya T_T
Baekhyun?. Tentu masih karena pemuda itu.
Kau tahu Bell, dia mematahkan harapanku untuk yang kesekian kalinya.
Bell, dia jadian dengan senior cantik dan cerdas di parang T_T.
Oh Bell, aku patah hati. Sakit rasanya. Hatiku bergejolak ingin melompat dan berteriak didepan wajah imut Baekhyun jika aku marah aku cemburu.
Tapi aku siapa Bell?. Aku hanya penggemarnya.

Secara bertahap pergi
Pertanda menjadi semakin mengecil
Terakhir kalinya aku ingin melihat lebih banyak
Aku hanya ingin mengingat lebih banyak
Aku hanya bisa menebar

Hyeon meneteskan air matanya. Untuk yang kesekian kalinya. Gadis itu terisak dalam diam. Menggenggam penanya erat.
Remuk sudah hatinya. Patahlah harapannya untuk yang keseribu kalinya.
Kenapa harus patah hati? Kenapa setiap hari harus sakit hati?.

Bell, apa yang harus aku lakukan?. Aku ingin melupakannya Bell, namun sulit.
Kenapa Baekhyun seakan mengambil alih posisi pikiranku.
Bell, apa aku harus menyatakan cinta padanya?.


Hyeon menghentikan gerakan jari-jarinya. Gadis itu menyeka kasar air matanya.
“Memangnya aku harus mengatakannya?. Diakan sedang menjadi milik Geul Ho Sunbae.”

Bell, katakan aku harus bagaimana?.
Besok kamu harus memberiku jawaban. Apa aku harus bertindak atau cukup diam seperti biasanya.
Oke Bell?.
Baikah Bell, sudah malam saatnya tidur.
Selamat malam tinker Bell sayang :* i love you!.
Semoga kita memimpikan idaman kita :’D


Park Hyeon menutup diarynya dan kembali memasang gembok diary itu. Menaruhnya pada tempat smeula. Memasukkan kunci pada laci dan segera bangkit dari duduknya.
Sduah pukul 10 malam, ini waktunya tidur.
“Hoam. Aku sudah mengantuk”
“Selamat malam semua!.”

Aku mencintaimu
Aku ingin membawa cinta dan meneriakinya
Maafkan aku, aku tidak dapat tersenyum
Dapatkah kau memberikannya kembali,
Lihatlah.


☻☻☻

Hyeon benar-benar mengutuk pagi ini. Menyebalkan sekali berangkat pagi-pagi dan mendapati koridor yang masih sepi tanpa siswa siswi satupun.
Park Hyeon mendesah kesal. Jika tahu begini lebih baik dia berangkat siang saja.
Hyeon mengakui dia benci sendiri dan dia akan menebak dikelas dia akan sendirian.
Untung saja pagi, coba saja jika malam. Hyeon sudah menebak dia akan kejang-kejang sebelum akhirnya pingsan terkapar. Terlalu dramatis T_T.

“Menyebalkan sekali.” Ucap Hyeon bersamaan dengan langkahnya yang terhenti.

Alis kanannya terangkat. Heran. Penasaran. Ingin tahu.
Matanya menyipit memastikan siapa yang tengah berdiri jauh di depannya sana.
Dua anak manusia. Siswa dan siswi.
Dada Hyeon seketika berdetak kencang. Firasatnya mengatakan keburukan. Apa yang akan terjadi?.
Siapa mereka?. Park Hyeon merasa mengenal perpawakan salah satu dari mereka. Sang pemuda!.
Samar Hyeon sanggup mendengar percakapan mereka.

“Maafkan aku Geul Ho, ini tidak seperti apa yang kamu fikirkan?.”

Mata Hyeon membulat. Geul Ho? Gadis itu memalingkan wajahnya. Kearah Hyeon.
Geul Ho tidak sadar dengan kehadiran Hyeon.
Tidak, jangan beradegan yang membuat hati Hyeon sakit.
Sudah Baekhyun. Sudah cukup dengan mua rasa sakit ini!.

Karena aku tidak bisa berjalan meskipun sehari
Kau tahu hatiku
Kumohon berikan aku putaran

Park Hyeon menunduk, dia sudah dapat menebak siapa pemilik tubuh proposional itu. Baekhyun, dia Byun Baekhyun.

“Harus berapa kali lagi aku menahan rasa cemburu ini Baek?.”

Hyeon mendongak, Geul Ho cemburu?. Mungkinkah cemburu pada lebah – lebah itu?.
Hyeon menyeringai. Dia jauh bertahan selama dua tahun sedang Geul Ho, berapa hari dia baru bertahan ha?.
Hyeon kembali membulatkan matanya.
Baekhyun meraih dagu Geul Ho.
Kaki Park Hyeon kaku. Rasanya ingin menyingkir dan masuk kedalam kelasnya.
Sial, jika dia ingin ke kelas dia harus melewati mereka.
Dia menyesal. Hyeon menyesal telah berangkat pagi. Dia menggigit bibir bawahnya.

Tahukah kau
Takuhan kau aku menangis

Mata heyon memanas. Dia dapat mengepalkan tangannya.
Baekhyun meraih tengkuk Geul Ho. Mendaratkan sebuah ciuman manis pada bibir Geul Ho.
Hyeon terisak dalam diam. Sakit. Kenapa semuanya menjadi begini?
Hyeon menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya.
Menutup mata. Tidak. Dia tidak ingin melihat pemandangan mengerikan ini.
Rasanya Hyeon ingin terjun dari atas tebing dan mati mendarat. Tidak dia belum ingin mati.
Setidaknya ia ingin melangkah pergi namun kenapa kakinya berat untuk digerakan.

“Kalian tega.”

Tentu, tentu saja mereka tega. Mereka tidak sadar kehadiran par Hyeon.
Tidak pernah menyadarinya sama sekali.
Baekhyun melepas tautannya. Meraup wajah Geul Ho.
Mata mereka bertemu.

“Percayalah padaku. Aku hanya mencintaimu. Hanya kamu.”
Samar Hyeon dapat melihat anggukan mantap Geul Ho. Hingga Baekhyun tergerak meraih tubuh mungil Geul Ho. Masuk kedalam pelukannya.
Sakit. Ini begitu menyakitkan.
Selama dua tahun Hyeon bertahan. Selama itulah dia tersakiti.
Selama dua tahun dia memendam perasaan ini. Selama itulah dia harus menahan betapa sakitnya hati ketika teriris secara tidak langsung.
Sekarang, bisakah dia mengajukan proposal padamu tuhan?.
‘aku ingin melupakan Baekhyun. Dia sebuah hitam dalam hidupku. Dia abu-abu dalam kehidupanku!.’

Aku tahu kau bertahan.
Kulihat kau datang.

Aku mencintaimu.
Aku ingin membawa cinta dan meneriakinya.
Maafkan aku, aku tidak dapat tersenyum.
Dapatkah kau memberikannya kembali.
Lihatlah.

Baekhyun dan Geul Ho menegang. Mata mereka membulat ketika bertemu dengan mata Hyeon.
Baekhyun mengeryitkan keningnya, dia dapat menebak jika Hyeon baru saja menangis. Kenapa?.
Baekhyun sama sekali tidak mengenali gadis itu?. Apakah dia salah satu penggemarnya?. Apa dia melihat kejadian barusan?. Malulah dia sekarang.

“Maaf Sunbae, aku tidak sengaja melihat. Aku akan menutup mulut.”
Ucap Hyeon parau. Jari telunjuknya tergerak didepan bibirnya. Bergerak seoalah memberi kode bahwa dia akan menutup mulut. Seakan mengeritkan bibirnya untuk tidak terbuka.
“Saya permisi.”

Karena aku tidak bisa berjalan meskipun sehari
Kau tahu hatiku
Kumohon berikan aku putaran
Bahkan rasa sakit cukup untuk membuatku mati lagi

☻☻☻

Tidak sama sekali. Park Hyeon berjanji dia tidak akan lagi sakit hati. Tidak akan lagi menangisi seorang Byun  Baekhyun.
Sudah cukup Baekhyun, berhenti menyakiti hati Hyeon secara tidak langsung.
Tidakkah kamu melihat caranya bertahan untuk dua tahun. bertahan hanya untukmu?.
Tapi sialnya kamu menghancurkan tembok pertahanannya. Sakit Baehyun. Beradalah pada posisinya sekarang juga!.

Sekarang aku bahkan tidak bisa merasakan.
Aku harap kembali hanya untuk melihatmu.
Aku akan menunggu.
Aku akan menunggu disini hingga terhenti.
Aku tidak akan melanjutkan langkahku.


“AAAAAAAAAAAAAAAA.....”
Hyeon menangis sejadinya ditaman sekolah. Tidak peduli beberapa orang mulai datang dan memandangnya aneh. Ia hanya ingin meluapkan segala rasa sakitnya.
Sakit Baekhyun. Pandang Hyeon sekali saja.

“Brengsek. Kau brengsek Baekhyun. Sekarang, apa bedanya aku dengan Geul Ho? Kami sama. Jika kamu mencari yang cantik aku juga tidak kalah cantik. Jika mencari yang cerdas. Aku juga bisa cerdas. Tapi kenapa kamu sekali saja tidak pernah memandangku?.” Teriak Hyeon.

Kenapa pagi yang seharusnya penuh dengan kesenangan haus terisi dengan terkikisnya hati Hyeon?.
Kenapa kebahagiaannya harus selalu terampas dengan masalah kecil?.
Kenapa dia tidak diizinkan merasakan rasa cinta seorang pemuda?. Tidak adil.

“Tuhan, jika Baekhyun bukan masa depanku. Maka buat aku lupa tentang dia. Buat aku melupakan dia selamanya.hiks. aku mohon!.”

Dan aku hanya mengingat, aku akan mengingat

Park Hyeon menangkupka wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Menangis dalam diam.
Matanya sudah sangat sakit. Terlalu banyak menangis. Terlalu lama menangis.
Terlalu bodoh telah jatuh hati pada Baekhyun.
Persetan dengan Baekhyun, dia tidak akan lagi mau dengan Baehyun. Tidak akan pernah.
Mulai saat ini bukan Park Hyeon yang mengagumi Baekhyun.
Sudah cukup rasa sakit ini. Sekarang biarkanlah ada Park Hyeon yang membenci Baekhyun. Yang mengutuk segala tingkah laku Baekhyun.
Baekhyun mencumbu kekasihnya dihadapannya itu sudah cukup membuatnya mati berdiri.
Hentikan, jangan berlebihan Baekhyun!.
Tidak, aku yakin dia tidak akan mendengarnya.
Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan Geul Ho untuk pagi ini!.

Tahukah kau
Takuhan kau aku menangis

Tangkupan telapak tangan Hyeon terbuka. Bukan dia yang membukanya. Namun Jong in.
Hyeon hampir menjerit dan ingin menangis ketika matanya bertemu dengan mata elang Jong In.
Wajah tentram Jong In seakan menghilangkan rasa sakit Hyeon untuk sesaat!.
Sesaat hening. Hanya terdengan seruakan angin yang semu.
Mata mereka masih bertemu.
Jong In mengeratkan genggamannya pada kedua belah telapan tangan Hyeon.
Posisi mereka. Hyeon duduk diatas bangku taman dan Jong In berjongkok di depannya.

“Apa membuatmu menangis?.” Jong In membuka mulutnya.
Hyeon menunduk. Takut. Haruskan bercerita.

“Bisakah tidak ada sebuah rahasia?. Aku selalu bisa menjaganya.”
Hyeon mendongak. Memandang mata elang Jong In.
Mata almond Hyeon meneduh. Harus yah?

Karena aku tidak akan melupakannya

“A-aku.”
“Katakan. Apa yang membuatmu menangis Hyeon?.”

Hyeon kembali menunduk.
Mulai dari mana dia harus bercerita ha?.

“Aku, Jong In. aku terluka terlalu dalam.”
Jong In mengeryitkan keningnya. Terluka kenapa?
Siapa yang menyakiti Hyeon.
Jong In mengerang. Tidak ada yang boleh menyakiti Hyeon. Tidaka ada.

“Siapa yang melukaimu Hyeon?.” Suara berat Jong In keluar. Dia seakan marah. Sama,  Hyeon juga marah.
Sialan air mata Hyeon kembali menetes. Sakit!.

“Aku-aku..” Hyeon tergagap.

Sekejappun Kau tahu hatiku

“Katakan Heyon?.”

“Dia menyakitiku Jong In. dua tahun aku bertahan untuknya. mengaguminya. Membuntutinya. Memujinya. Mengidolakannya. Mengirimkan satu surat kecil padanya. Dulu.” Hyeon terisak.
Jong In semakin erat menggenggap telapak tangan Hyeon.
Berusaha mentransferkan kenyamanan untuk Hyeon.

“Katakan namanya Hyeon?. ” desak Jong In.

Haruskan?. Haruskan Park Hyeon melakukannya ini, menyebutkan nama pemuda itu dihadapan Jong In.
Jong In, pemuda yang terkenal kasar. Jika dia tahu siapa penyebab semua ini. Akankah Jong In akan bermain kasar pada Baekhyun?. 70% Hyeon sanggup menjawab iyah.

“Katakan.”

Park Hyeon melepas genggaman Jong In. menangkup kedua pipi pemuda berkulit hitam itu.
Melempar senyum pada pemuda yang selalu ada untuknya. Hyeon senang!.

“Berjanjilah Jong In. kamu tidak akan berurusan dengannya.”
Jong In mengangguk mantap.
Meraih kedua telapan tangan Hyeon.

“Aku berjanji.” Ucap Jong In bersamaan dengan suara bel masuk sekolah.
Sudah masuk, mereka harus cepat. Tidak, Hyeon yang harus cepat.
Cepat katakan Hyeon.

“Hyeon. Cepat katakan.”
Jong In kembali mendesak.

Kumohon berikan aku putaran.
Diriku lagi.
Sekarang aku bahkan tidak bisa merasakan.
Aku harap kembali hanya untuk melihatmu.
Aku akan menunggu.
Aku akan menunggu disini hingga terhenti.

Berjanjilah Park Hyeon. Setelah ini tidak aakn lagi ada cinta untuk Baekhyun. Setelah rasa sakit ini.
Berhentilah mencintai Baekhyun. Berhenti membuntutinya berhenti mendengar kabar dan gosip tentangnya. Ini menyakitkan, namun Hyeon harus bisa.

Aku tidak akan melanjutkan langkahku

“Byun Baekhyun!.”

Dan Baekhyun harus sakit seperti aku.
Hurt like me baekhyun 
 


END 


mianhae jika jelek pasaran menggantung dan tidak mengenakan. tapi terimakasih atas keinginan untuk membaca :'D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar